• Dunia Baru
  • Psikologi
  • Kesehatan
  • Bisnis
Tampilkan postingan dengan label Konstruksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konstruksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Januari 2013

Konstruksi Beton Untuk Bangunan


Konstruksi beton merupakan konstruksi dengan bahan yang terbuat dari beton yang terdiri dari semen dan bahan lain sepertifly ash dan semen terak, agregat (agregat kasar umumnya terbuat dari batu kerikil atau dihancurkan seperti kapur, atau batu granit, ditambah agregat halus seperti pasir), air, dan kimia pencampuran.

Beton akan mengeras setelah pencampuran semua bahan dengan air. Beton adalah salah satu bahan konstruksi yang paling banyak digunakan di dunia. Hal Ini disebabkan karena :
Bahan-bahan dasar pembuat beton seperti air, semen, pasir dan agregat kasar mudah didapatkan.
Beton itu relatif awet atau tahan lama (durable).
Beton mudah dibentuk keberbagai bentuk yang diinginkan.
Beton dibuat dengan mencampurkan air, semen, agregat halus (pasir), agregat kasar dan bahan campuran tambahan lainnya jika diperlukan dengan semen dan komponen lainnya bersama-sama.
Jika kurang air dalam pasta semen akan menghasilkan beton yang lebih kuat, lebih tahan lama; sebaliknya jika lebih banyak air akan memberikan kualitas rekat beton kurang baik. Demikian halnya dengan air kotor digunakan untuk membuat beton dapat menyebabkan masalah ketika mengatur atau dalam menyebabkan kegagalan prematur struktur.
Beton juga dapat digunakan untuk membuat trotoar, pipa, struktur arsitektur, jalan raya / jalan , jembatan / jalan layang, parkir struktur, bata / blok dinding dan pondasi untuk pintu gerbang, pagar, tiang dan sebagainya.
Proses Pencampuran Beton
Pencampuran yang menyeluruh sangat penting untuk produksi beton dengan kualitas tinggi. Oleh karena itu, peralatan dan metode yang tepat sangat penting dalam pencampuran beton.
Pencampuran semen dan air terlebih daluhu sebelum dicampurkan dengan agregat dapat meningkatkan kuat tekan beton yang dihasilkan. Pada umumnya dicampur dengan kecepatan tinggi (concrete mixer) kadar air semen dari 0,30-0,45 oleh massa. Sebelum pencampuran pasta semen mungkin harus dicampur dengan bahan additif seperti akselerator atau retarder, plastisizer, pigmen , atau silica fume. Pasta premixed kemudian dicampur dengan agregat dan air yang tersisa batch, dan pencampuran akhir ini selesai pada peralatan pencampuran beton konvensional.
Beton yang digunakan untuk beton bertulang dapat menggunakan perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil.air yang digunakan 1/2 dari volume semen. Perbandingan ini merupakan perbandingan volume. Sebagai penakar dapat menggunakan peralatan yang tidak sukar dicari seperti ember atau timba. mutu yang diharapkan dapat tercapai dengan perbandingan ini adalah sekitar 150 kg/cm2
Cetakan Beton
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan cetakan beton adalah:
Pemasangan bekisting harus kokoh dan kuat sehingga tahan terhadap getaran yang ditimbulkan pada saat pengecoran.
Setiap selesai pemasangan harus diteliti ulang baik kekuatan maupun bentuknya.
Cetakan beton dibuat dari bahan yang baik sehingga mudah pada saat dilepaskan tanpa mengakibatkan kerusakan pada beton.
Bekisting harus boleh dibuka setelah 28 hari.selama beton belum mengeras harus dilakukan perawatan dengan menyiram beton dengan air.
Agregat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
Agregat halus atau pasir.
Agregat kasar termasuk batu pecah dan kerikil.
Beberapa karakteristik dari agregat yang perlu diperhatikan adalah:
Kekuatan dan kekerasan, agregat-agregat yang mempunyai kekuatan dan kekerasan yang lebih tinggi akan menghasil beton dengan kekuatan yang lebih tinggi juga.
Ketahanan dalam jika mengalami gerusan dan kelapukan.
Secara kimia tidak reaktif sehingga tidak akan beraksi dengan larutan semen.
Bersih sehingga rekatan antara agregat-agregat dengan adukan semen tidak terganggu.
Bergradasi, agregat-agregate sebaiknya mempunyai ukuran yang bervariasi sehingga mereka akan bisa bersatu dengan baik. Sebagai hasilnya, beton yang dihasilkan akan lebih padat dan kuat.
Bentuk agregat, agregat yang bundar akan menhasilkan campuran yang mudah dikerjakan sedangkan agregat yang berbentuk tajam akan sukar untuk dicor, dikerjakan/diratakan dan dipadatkan akan tetapi menghasilkan beton yang lebih kuat.
Ukuran Beton
Untuk rumah sederhana, sebaiknya ukuran beton yang digunakan adalah sebagai berukut :
Sloof 15×20 cm.
Kolom utama 15×15 cm
Kolom praktis 13×13 cm
Ringbalk 13×15 cm
Balok kuda2 13×15 cm
Dinding bata
Untuk dinding bata, mortar (spesi) yang digunakan sebagai pengikat bata dapat menggunakan perbandingan 1 semen : 4 pasir, Sedangkan pada bagian yang memerlukan kedap air dapat digunakan perbandingan 1 semen : 2 pasir. Untuk menjaga ikatan antara bata dan kolom ataupun balok, maka setiap jarak 50 cm dipasang angker dengan panjang sekitar 30 cm menggunakan besi diameter 8 mm. Sebelum dipasang, batu bata tersebut harus terlebih dahulu direndam dalam air dengan tujuan agar air spesi tidak diserap oleh bata. Setiap pemasangan bata harus terisi padat dengan spesi minimal 1 cm.
Plesteran
Sebelum diplaster seluruh permukaan dinding,kolom dan balok harus dibasahi dulu dengan air sampai mencapai keadaan jenuh.pembersihan terhadap permukaan juga harus dilakukan sebelum dilakukan plesteran.
Keuntungan bahan bangunan beton
Beton dibandingkan dengan bahan bangunan yang lain mempunyai beberapa keuntungan, diantarannya :
Mudah dibentuk sesuai dengan keinginan.
Tahan lama dan memerlukan sedikit perawatan, jadi lebih ekonomis.
Mempunyai daya tahan yang bagus terhadap karat dan tidak mudah lapuk.
Tidak mudah terbakar.
Ketahanan terhadap angin yang berkecapatan tinggi (kencang).
Tidak dimakan serangga atau rayap.
Demikian adalah beberapa alasan yang dapat dipertimbangkan apabila Anda hendak memilih beton sebagai bahan bangunan.

sumber:ilmutekniksipil.com

Minggu, 06 Januari 2013

Konstruksi tangga


A.Ukuran dan pembagian-pembagian tangga

Telah diselidiki bahwa untuk mendaki tangga 2 x dari pada orang berjalan ditempat yang datar, oleh karena itu miring tangga dibatasi sebesar-besarnya 35-40° terutama jika tangga digunakan ditempat yang sering untuk dilalui dengan membawa barang yang berat. Seperti rumah sakit, hotel, tempat perbelanjaan dan sebagainya.

a.bagian tangga yang diinjak kaki yang mendatar dinamakan langkah datar (antrede) atau langkah maju, sedangkan bagian yang tegak dinamakan langkah naik (optrede)
b.ada suatu hubungan antara langkah datar/langkah maju dan langkah naik dengan rumus :
A + 2 x O = 57-65 cm
Artinya : A=langkah datar (antrede)
O=langkah naik (optrede)
c.jika banyaknya O=n, maka banyaknya A=n-1 buah
d.ukuran langkah naik berkisar antara 15-20cm agar waktu melalui tangga dalam langkah naik tidak terasa lelah
e.lebar tangga antara 60-90 cm untuk dilalui 1 orang, dan antara 80-120 cm untuk 2 orang bersama-sama. Dan untuk tangga yang digunakan oleh orang banyak lebar tangga diambil 150-200 cm.

B.Perencanaan tangga

Untuk merencanakan suatu tangga perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a.perlu diketahui ruang yang disediakan untuk tangga
b.harus diketahui perbedaan tinggi lantai 1 (bawah) dan lantai 2 (diatasnya)
c.banyak anak tangga sebanyak-banyaknya 20 buah, dan jika pembagianya terdapat lebih dari 20, perlu dibuat bordes agar yang melalui tangga tidak lelah dan tidak menjemukan
d.hasil pembagian anak tangga merupakan bilangan yang bulat

contoh :

suatu ruangan lantai bawah + 0,0 dan lantai 2 atas 3,60 diatas lantai 1. Akan direncanakan tangga dengan 2 lengan yang berlawanan arah. Diminta rencana tangga tersebut dan hitunganya.

Penyelesaian :

Oleh karena perbedaan tinggi antara lantai 1 dan lantai 2 = 360 cm yang dalam hal ini merupakan kelipatan 18, oleh karena itu langkah naik (optrede) diambil 18 cm. jika banyaknya langkah naik = n

Maka O = = 20 buah

Oleh karena tangga berlawanan arah maka tinggi diambil setengahnya dan n.O = 10 buah
Panjang langkah datar dicari dengan rumus :

A + 2.O = 60 cm
A + 2.18 = 60 cm
A + 36 = 60
A = 60 – 36
A = 24

n.A = (n – 1 ) = n.O
= 10 – 1
= 9 buah

Panjang ruangan untuk tangga = 9 x 24 = 2,16 m
Jika awal naik tangga = 60 cm = 0,60 m
Dan akhiran tangga = 60 cm = 0,06 m
Jumlah = 3,36 m dibulatkan 3,40 m

C.Tangga Kayu

1.tangga lurus

Pada umumnya tangga kayu berbentuk lurus. Di samping bentuknya sederhana juga konstruksinya sederhana dan murah. Ada pula tangga lurus yang dipakai sebagai pengganti undak pada tangga pasangan, dengan perbedaan lantai di bawah dan diatasnya kecil.

a.susunan tangga lurus terdiri dari ibu tangga/daun tangga dan langkah dasar tanpa langkah naik.
b.ibu tangga terdiri dari papan tebal 3,5 – 4 cm lebar 22 – 28 cm sedangkan anak tangga juga dapat dengan ukuran yang sama
c.hubungan anak tangga dengan ibu tangga dilaksanakan dengan cara pada ibu tangga di takik serupa dengan anak tangga yang menempel pada ibu tangga. Kedalaman takikan sebesar 1 cm. pada ujung bawah ibu tangga dibuat mendatar lebar 10 – 12 cm, agar berdirinya ibu tangga dapat kokoh
d.perkuatan anak tangga terhadap ibu tangga dengan paku 2 atau 3 batang dari sisi luar.

Tangga semacam ini di samping konstruksinya mudah juga pengerjaanya cepat. Tetapi tidak begitu tepat digunakan pada rumah-rumah yang baik.

2.tangga lengan berlawanan arah

Dengan bentuk tangga berlawanan arah , panjang ruangan dapat dihemat, tetapi lebar ruangan menjadi bertambah.

a.untuk membuat lebar lubang tangga di atasnya, di tarik garis setinggi 180 – 190 cm diatas muka atas bordes atau muka atas langkah datar (antrede)
b.di tepi sekeliling lubang tangga dipasang sandaran untuk keamanan ruangan atas. Tinggi sandaran seperti pada sandaran tangga yaitu setinggi 80 – 90 cm
c.ibu tangga menempel tiang sandaran yang juga sebagai pendukung ibu tangga. Tiang ini ditanam dalam blok beton dan ujungnya dipasang anker/duk dari baja bulat Ø 22 – 25 mm atau bentuk pipa baja
d.hubungan ibu tangga dengan tiang sandaran dengan pen/purus dan lubang yang masing – masing tebalnya 1/3 tebal ibu tangga
e.untuk menghindari penyusutan dan agar tangga yang menempel pada tiang tidak membuka , maka ibu tangga masuk pada tiang sandaran sedalam 1 cm
f.purus dikancing dengan paku kayu (toong) dan di singkat dengan meni sebelum hubungan dimatikan
g.hubungan anak tangga datar ataupun anak tangga tegak seluruhnya masuk pada takikan ibu tangga sedalam 1 cm dan bentuknya serupa dengan anak tangga yang menempel ibu tangga.

sumber:ilmu-konstruksi.blogspot.com

Senin, 31 Desember 2012

Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Keretakan Pada Beton Bertulang


Beton bertulang (reinforced concrete) adalah struktur komposit yang sangat baik untuk digunakan pada konstruksi bangunan. Pada struktur beton bertulang terdapat berbagai keunggulan akibat dari penggabungan dua buah bahan, yaitu beton (PC + aggregat halus + aggregat kasar + zat aditif) dan baja sebagai tulangan. Kita tahu bahwa keunggulan dari beton adalah kuat tekannya yang tinggi, sementara baja tulangan sangat baik untuk menahan gaya tarik dan geser. Penggabungan antara material beton dan baja tulangan memungkinkan pelaku konstruksi untuk mendapatkan bahan baru dengan kemampuan untuk menahan gaya tekan, tarik, dan geser sehingga struktur bangunan secara keseluruhan menjadi lebih kuat dan aman.

Karena kelebihan yang dimilikinya, maka penggunaan beton bertulang sebagai bahan struktur utama bangunan sangat populer. Beton bertulang lebih menjadi pilihan dibandingkan material lain seperti bambu, kayu, beton konvensional atau baja. Penerapan beton bertulang pada struktur bangunan biasanya dapat dijumpai pada: pondasi (jenis pondasi dalam seperti tiang pancang, bored pile), balok ikat (sloof), kolom, balok, plat beton, dan dinding geser (shear wall).


Namun dibalik kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh beton bertulang jika dibandingkan dengan bahan material lainnya, beton bertulang juga memiliki masalah yang dapat mengurangi keunggulannya. Diantara masalah yang sering dijumpai adalah masalah keretakan yang terjadi pada bahan tersebut. Keretakan pada beton bertulang dapat timbul pada saat pra-konstruksi dan pasca konstruksi.


Sebenarnya setiap beton bertulang yang diaplikasikan pada struktur bangunan pasti akan terjadi retakan, yang harus dipertimbangkan adalah apakah retakan tersebut dapat ditolerir karena tidak berbahaya atau retakan tersebut membahayan struktur bangunan secara keseluruhan. Keretakan pada beton bertulang ini disebabkan oleh beberapa hal, karena pengaruh dari sifat beton itu sendiri maupun faktor lingkungan luar yang mempengaruhi beton secara langsung.

Kalau kita lihat dari jenis retakannya, ada dua jenis keretakan pada beton bertulang yaitu retakan yang terjadi saat pembuatan beton dan retakan yang terjadi setelah beton selesai dibuat. Dari dua jenis retakan tersebut banyak sekali berbagai faktor yang melatarbelakangi terjadinya retakan tersebut. Apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya keretakan pada beton bertulang tersebut? Berikut ini kami uraikan untuk Anda..

Faktor -Faktor Penyebab Keretakan Beton Yang Terjadi Saat Pembuatan Beton Bertulang

1. Sifat Beton
Untuk melihat bagaimana sifat dari beton bertulang yang dapat menimbulkan keretakan kita harus melihat proses dari awal pembuatan beton bertulang tersebut. Pada saat awal pembuatan beton bertulang dengan pencampuran bahan penyusunnya seperti kerikil, pasir, air, semen, dan baja tulangan. Dalam proses pengerasannya beton akan mengalami pengurangan volume dari volume awal. Umumnya hal ini disebabkan air yang terkandung pada campuran beton akan mengalami penguapan sebagian yang mengurangi volume beton bertulang tersebut.

Sehingga apabila dikondisikan pada saat beton mengalami pengerasan dan akibat dari volume beton berkurang yang akan menyebabkan penyusutan pada beton tetapi beton tersebut dibiarkan untuk menyusut tanpa adanya pembebanan maka beton pun tidak akan mengalami keretakan. Tetapi pada kondisi sebenarnya dilapangan tidak ada beton yang tidak mengalami pembebanan. Karena tidak ada balok atau kolom pada bangunan yang berdiri sendiri melainkan akan bersambung satu sama lain dan hal ini akan membuat beton bertulang bekerja menahan beban-beban pada bangunan.

Sehingga apabila pada kondisi saat beton mengalami penyusutan volume kemudian terjadi pembebanan, maka retakan pun tidak dapat dihindari.

2. Suhu
Tidak dapat diabaikan suhu juga dapat menyebabkan keretakan pada beton bertulang. Maksud suhu disini adalah suhu campuran beton saat mengalami perkerasan. Karena pada saat campuran beton bertulang mengalami perkerasaan suhu yang timbul akibat reaksi dari air dengan semen akan terus meningkat. Sehingga pada saat suhu campuran beton ini terlalu tinggi, pada saat beton sudah keras sering timbul retak-retak pada permukaan beton.

3. Korosi pada tulangan
Sebenarnya untuk mengantisipasi retakan yang terjadi akibat dari sifat beton itu sendiri, beton diberi tulangan pada bagian dalamnya yang terbuat dari baja. Sehingga diharapkan dengan adanya baja tulangan tersebut retakan akibat dari sifat beton disebar pada keseluruhan beton menjadi bagian-bagian yang sangat kecil sehingga retakan tersebut dapat diabaikan. Tetapi apabila tulangan yang dipakai pada saat pembuatan beton sudah meengalami korosi, tulangan tersebut itu pun akan menyebabkan retakan pada saat beton mengeras.

4. Proses pembuatan yang kurang baik
Banyak sekali penyebab retak yang terjadi pada beton bertulang disebabkan oleh proses pembuatan yang kurang baik. Seperti contoh pada saat beton mengalami perkerasan dimana banyak mengeluarkan air, maka perlu adanya perawatan pada beton agar pengeluaran air dari campuran beton tidak berlebihan. Tetapi akibat tidak adanya perawatan, sehingga pada saat beton terbentuk maka terjadi banyak retakan.

5. Material yang kurang baik.
Banyak sekali terjadi keretakan pada struktur beton bertulang diakibatkan karena material penyusunnya yang kurang baik. Beberapa hal diantaranya yang sering ditemukan adalah aggregat halus atau pasir yang kurang bersih, masih bercampur dengan lumpur sehingga ikatan antara PC dan aggregat menjadi terlepas. Sehingga ketika beton mengering maka retakan-retakan akan mudah sekali terjadi.

6. Cara penulangan
Sering sekali saya menemukan struktur beton bertulang dibuat dengan cara yang kurang tepat. Hal yang paling umum terjadi adalah ketebalan dari tulangan sampai permukaan beton terlampau besar. Hal ini sebenanrnya kurang tepat karena fungsi dari baja tulangan tersebut adalah untuk menahan gaya lintang (pada balok dan plat), deformasi akibat lendutan, serta gaya geser.

Jika tebal selimut beton terlampau besar makan retakan biasa terjadi mulai dari permukaan struktur beton sampai pada bagian tulangan yang ada didalamnya. Seharusnya tulangan dibuat agak keluar, dan selimut atau kulit yang membungkus tulangan dibuat setipis mungkin (1,5 s/d 2 cm). Karena gaya tarik dan gaya tekan paling besar terjadi pada ujung permukaan beton tersebut.

Contoh Penulangan Pada Struktur Beton Bertulang (Reinforced Concrete)

Faktor- Faktor Penyebab Keretakan Beton Yang Terjadi Setelah Pembuatan Beton Bertulang

1. Pengaruh lingkungan
Karena beton bertulang pada bangunan mengalami kontak langsung dengan cuca luar, pengaruh cuaca ini sedikit banyakanya memberi andil dalam keretakan pada beton sehingga konstruksi bangunan yang berumur cukup lama banyak mengalami retakan. Salah satu pengaruh lingkungan yang menyebabkan beton retak adalah akibat dari air hujan. Akibat sekian lama beton pada bangunan tua menerima air hujan secara langsung, lama – kelamaan air hujan masuk meresap kedalam pori-pori beton yang kemudian mencapai tulangan pada beton.

Apabila saat air hujan telah mengenai baja tulangan, maka akan terjadi reaksi antara baja tulangan dengan tulangan yang menyebakan baja tulangan menjadi berkarat atau korosif. Akibat korosifnya baja tulangan dan ditambah faktor luas seperti pembebanan mengakibatkan beton akan mengalami retak-retak.

2. Pembebanan
Setelah struktur beton bertulang sudah jadi dan bangunan secara keseluruhan telah siap untuk digunakan, maka struktur beton bertulang tersebut akan menerima beban-beban. Beban-beban yang bekerja pada struktur beton bertulang secara umum terdiri atas bebean sendiri dan beban luar (beban akibat angin, manusia, beban gempa, dsb).

Apabila struktur beton bertulang tersebut menerima beban sesuai dengan kapasitas atau kuat dukung beban yang direncanakan, seharusnya struktur beton tersebut akan baik-baik saja. Tetapi kadangkala beton akan menerima beban diluar kemampuannya, dan biasanya pembebanan yang melebihi kapasitas yang telah direncanakan itulah yang menyebabkan keretakan pada struktur beton.

Pada saat terjadi keretakan, besi tulangan (pada daerah tarik) tersebut mulai mengambil alih secara penuh beban tarik yang terjadi. Artinya beton (daerah tarik) sudah tidak memikul beban tarik. Beban tarik dialihkan ke besi tulangan. Secara struktural kondisi ini memang dirancang seperti itu dan kekuatan struktur masih dapat dipertanggung jawabkan. Beton yang retak saat beban mulai bertambah sama sekali tidak berarti ada kegagalan struktur.

Lokasi retakan yang terjadi saat beban mulai membesar adalah pada daerah tumpuan / ujung balok sisi atas dan tengah bentang di sisi bawah. Pengalaman saya, retak yang terjadi hanya 1-2 retakan di satu tempat observasi. Dimana tebalnya juga tidak besar. Bahkan seringkali hanya retak rambut. Keretakan seperti ini mestinya tidak perlu diperbaiki sama sekali. Ini kondisi yang alamiah terjadi dan memang perhitungannya sudah memperhitungkan retak itu akan terjadi.

Jika retak beton yang terjadi masih wajar seperti retak halus atau retak rambut , maka tidak perlu diperbaiki. Tidak perlu juga untuk khawatir, karena perhitungan struktur beton memang sudah tidak memperhitungkan beton yang mengalami retak. Namun jika retak yang terjadi cukup parah, perlu dilakukan penelitian yang lebih rinci yang melingkupi perhitungan struktur sesuai kondisi lapangan. Apakah cukup ditutup dengan epoxy, memperbesar dimensi struktur beton bertulangnya atau diberi perkuatan tambahan.

sumber:architectaria

Kamis, 20 Desember 2012

Pondasi Tiang Pancang


Pondasi tiang pancang adalah suatu konstruksi pondasi yang mampu menahan gaya orthogonal ke sumbu tiang dengan jalan menyerap lenturan. Pondasi tiang pancang dibuat menjadi satu kesatuan yang monolit dengan menyatukan pangkal tiang pancang yang terdapat di bawah konstruksi dengan tumpuan pondasi.

Pelaksanaan pekerjaan pemancangan menggunakan diesel hammer. Sistem kerja diesel Hammer adalah dengan pemukulan sehingga dapat menimbulkan suara keras dan getaran pada daerah sekitar. Itulah sebabnya cara pemancangan pondasi ini menjadi permasalahan tersendiri pada lingkungan sekitar.

Permasalahan lain adalah cara membawa diesel hammer kelokasi pemancangan harus menggunakan truk tronton yang memiliki crane. Crane berfungsi untuk menaikkan dan menurunkan. Namun saat ini sudah ada alat pancang yang menggunakan system hidraulik hammer dengan berat 3 – 7 ton.

Pekerjaan pemukulan tiang pancang dihentikan dan dianggap telah mencapai tanah keras jika pada 10 kali pukulan terakhir, tiang pancang masuk ke tanah tidak lebih dari 2 cm.

Berikut ini cara sederhana untuk menghitung kebutuhan pondasi tiang pancang dan penampang tiang pancang yang akan digunakan :
Misalnya didapat brosure produk tiang pancang segitiga ukuran 25/25. Jika daya dukung setiap tiangnya mencapai 2 ton maka berapakah jumlah tiang dalam setiap kolomnya?
Adapun tahap perhitungannya adalah sebagai berikut:
Denah bangunan dibagi-bagi di antara kolom-kolom untuk mengetahui berat yang harus dipikul setiap pondasi. Dapat juga semua luas denah bangunan dijumlahkan kemudian dibagi ke dalam beberapa titik pondasi dalam setiap kolomnya. Cara kedua ini memiliki kelemahan karena beban di pinggir kolom tentu saja berbeda dengan beban di tengah.
Selanjutnya total volume beton dikalikan dengan berat jenis beton, volume lantai dikalikan berat jenis lantai, demikian seterusnya untuk tembok, kayu, genteng, dan sebagainya. Hasilnya dijumlahkan sehingga diperoleh berat = X ton.
Selain itu juga dihitung jumlah beban hidup untuk jenis bangunan tersebut. Misalnya beban rumah tinggal 200 Kg/m2. Sehingga diperoleh 200 kg dikalikan dengan seluruh luas lantai, misalnya Y ton.
Jumlah semua beban tersebut yaitu : X ton + Y ton. Misalnya, hasil penjumlahannya 48 ton. Dengan demikian kebutuhan tiang pancang adalah 48 ton : 25 ton atau sekitar dua buah tiang pancang pada satu titik kolom. Jadi jumlah tiang pancang untuk bangunan tersebut adalah hasil perkalian antara jumlah kolom dengan dua titik pancang.
Hasil tersebut hanya untuk sebuah tiang pancang yang ukurannya 6 meter setiap batangnya. Bila kedalaman tanah keras adalah 9 meter, maka diperlukan dua buah tiang pancang per titiknya.
Hitungan sederhana tersebut mengabaikan daya dukung tanah hasil laboratorium dan daya lekat tanah si sepanjang tiang pancang. Bila hal tersebut dihitung, jumlah tiang pancang tentu akan berkurang. Bahkan cara perhitungannya tidak sesederhana hitungan di atas.
1. Ukuran Tiang Pancang
Berbagai ukuran tiang pancang yang ada pada intinya dapat dibagi dua, yaitu :
MINIPILE dan MAXIPILE.
a. Minipile (Ukuran Kecil)
Tiang pancang berukuran kecil ini digunakan untuk bangunan-bangunan bertingkat rendah dan tanah relative baik. Ukuran dan kekuatan yang ditawarkan adalah:
Berbentuk penampang segitiga dengan ukuran 28 dan 32.
Berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 20x20 dan 25x25.
- Tiang pancang berbentuk penampang segitiga berukuran 28 mampu menopang beban 25 – 30 ton
- Tiang pancang berbentuk penampang segitiga berukuran 32 mampu menopang beban 35 – 40 ton.
- Tiang pancang berbentuk bujur sangkar berukuran 20x20 mampu menopang tekanan 30 – 35 ton
- Tiang pancang berbentuk bujur sangkar berukuran 25 x 25 mampu menopang tekanan 40 – 50 ton.
b. Maxipile (Ukuran Besar)
Tiang pancang ini berbentuk bulat (spun pile) atau kotak (square pile). Tiang pancang ini digunkan untuk menopang beban yang besar pada bangunan bertingkat tinggi. Bahkan untuk ukuran 50x50 dapat menopang beban sampai 500 ton.
2. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan :
- Karena dibuat dengan system pabrikasi, maka mutu beton terjamin.
- Bisa mencapai daya dukung tanah yang paling keras.
- Daya dukung tidak hanya dari ujung tiang, tetapi juga lekatan pada sekeliling tiang.
- Pada penggunaan tiang kelompok atau grup (satu beban tiang ditahan oleh dua atau lebih tiang), daya dukungnya sangat kuat.
- Harga relative murah bila dibanding pondasi sumuran.
Kekurangan :
- Untuk daerah proyek yang masuk gang kecil, sulit dikerjakan karena factor angkutan.
- Sistem ini baru ada di daerah kota dan sekitarnya.
- Untuk daerah dan penggunaan volumenya sedikit, harganya jauh lebih mahal.
- Proses pemancangan menimbulkan getaran dan kebisingan.
3. Keuntungan dan Kerugian menurut teknik pemasangan
a. Pondasi tiang pancang pabrikan.
Keuntungan:
Karena tiang dibuat di pabrik dan pemeriksaan kwalitas sangat ketat, hasilnya lebih dapat diandalkan.
Pelaksanaan pemancangan relative cepat, terutama untuk tiang baja. Walaupun lapisan antara cukup keras, lapisan tersebut masih dapat ditembus sehingga pemancangan ke lapisan tanah keras masih dapat dilakukan.
Persediaannya culup banyak di pabrik sehingga mudah diperoleh, kecuali jika diperlukan tiang dengan ukuran khusus.
Untuk pekerjaan pemancangan yang kecil, biayanya tetap rendah.
Daya dukungnya dapat diperkirakan berdasar rumus tiang pancang sehingga pekerjaankonstruksinya mudah diawasi.
Cara pemukulan sangat cocok untuk mempertahankan daya dukung beban vertical.
Kerugian :
Karena pekerjaan pemasangannya menimbulkan getaran dan kegaduhan maka pada daerah yang berpenduduk padat akan menimbulkan masalah di sekitarnya.
Untuk tiang yang panjang, diperlukan persiapan penyambungan dengan menggunakan pengelasan (untuk tiang pancang beton yang bagian atas atau bawahnya berkepala baja). Bila pekerjaan penyambungan tidak baik, akibatnya sangat merugikan.
Bila pekerjaan pemancangan tidak dilaksanakan dengan baik, kepala tiang cepat hancur. Sebaiknya pada saat dipukul dengan palu besi, kepala tiang dilapisi denga kayu.
Bila pemancangan tidak dapat dihentikan pada kedalaman yang telah ditentukan, diperlukan perbaikan khusus.
Karena tempat penampungan di lapangan dalam banyak hal mutlak diperlukan maka harus disediakan tempat yang cukup luas.
Tiang-tiang beton berdiameter besar sangat berat, sehingga sulit diangkut atau dipasang. Karena itu diperlukan mesinpemancang yang besar.
Untuk tiang-tiang pipa baja, diperlukan tiang yang tahan korosi.
b. Pondasi Tiang yang Dicor di Tempat
Keuntungan:
Karena pada saat melaksanakan pekerjaan hanya terjadi getaran dan keriuhan yang sangat kecil maka pondasi ini cocok untuk pekerjaan pada daerah yang padat penduduknya.
Karena tanpa sambungan, dapat dibuat tiang yang lurus dengan diameter besar dan lebih panjang.
Diameter tiang ini biasanya lebih besar daripada tiang pracetak atau pabrikan.
Daya dukung sstiap tiang lebih besar sehingga beton tumpuan (Pile cap) dapat dibuat lebih kecil.
Selain cara pemboran di dalam arah berlawanan dengan putaran jam, tanah galian dapat diamati secara langsung dan sifat-sifat tanah pada lapisan antara atau pada tanah pendukung pondasi dapat langsung diketahui.
Pengaruh jelek terhadap bangunan di dekatnya cukup kecil.
Kerugian :
Dalam banyak hal, beton dari tubuh tiang diletakkan di bawah air dn kualitas tiang yang sudah selesai lebih rendah dari tiang-tiang pracetak atau pabrikan. Disamping itu, pemeriksaan kualitas hanya dapat dilakukan secara tidak langsung.
Ketika beton dituangkan, dikawatirkan adukan beton akan bercampur dengan reruntuhan tanah. Oleh karena itu, beton harus segera dituangkan dengan seksama setelah penggalian tanah dilakukan.
Walaupun penetrasi sampai ke tanah pendukung pondasi dianggap telah terpenuhi, terkadang tiang pendukung kurang sempurna karena ada lumpur yang tertimbun di dasar.
Karena diameter tiang cukup besar dan memerlukan banyak beton, maka untuk pekerjaan yang kecil dapat mengakibatkan biaya tinggi.
Karena pada cara pemasangan tiang yang diputar berlawanan arah jarum jam menggunakan air maka lapangan akan menjadi kotor. Untuk setiap cara perlu dipikirkan cara menangani tanah yang telah dibor atau digali.

sumber:belajarsipil

Rabu, 12 Desember 2012

RANGKA ATAP RUMAH, BAJA RINGAN ATAU KAYU ?



Pelindung utama sebuah bangunan adalah atap. Bayangkan jika Anda memiliki rumah yang megah, mahal, dengan furniture yang elegan, namun jika hujan datang harus disibukkan oleh atap rumah yang bocor. Bayangkan pula kalau tiba-tiba rangka atap rumah Anda tiba-tiba keropos dimakan rayap. Capek, melelahkan dan tentunya kemewahan rumah tak ada harganya lagi.

Karena itu, penting memilih rangka atap yang tahan rayap, tahan bocor, dan tahan lama. Menurut para arsitek, sebaiknya mendahulukan atap yang bagus dibanding memplester tembok atau memasang keramik di lantai. Ini karena percuma saja mempunyai rumah dengan dinding dan perabotan yang bagus jika atapnya buruk.

Saat ini ada beberapa jenis rangka atap yang ada di pasaran. Seperti, rangka kayu sebagai tempat bersandarnya genteng tanah liat maupun beton. Pemasangannya tak sulit. Cukup mengaitkan genteng ke reng, lalu sisi bagian lain ditindih genteng lainnya seperti anyaman.

Ada pula rangka atap baja ringan, yang akhir-akhir ini mulai booming di pasaran. Rangka baja ringan bermutu tinggi dan memiliki sifat ringan dan tipis. Baja ini dikenal dengan cold form steel atau dibentuk setelah dingin.

Meskipun tipis, baja ringan memiliki derajat kekuatan tarik yang tinggi sekitar 550 MPa. Berbeda dengan baja biasa sekitar 300 MPa. Kekuatan tarik dan tegangan ini untuk mengkompensasi bentuknya yang tipis. Ketebalan baja ringan yang beredar sekarang ini berkisar dari 0,4 mm-1mm. Kualitasnya yang tinggi membuat harganya juga tinggi. Baja dijual per kg dan harganya mahal.

Orang yang menggunakan baja ringan dianggap merupakan orang yang mengerti investasi. Karena, jika dihitung secara finansial, penggunaan rangka baja ringan akan menguntungkan pemilik bangunan.

Baja ringan memiliki sejumlah kelebihan dibanding rangka kayu. Yakni, nilai muai dan susutnya sangat kecil, tidak cepat berubah meskipun terkena panas dan dingin. Berbeda dengan kayu yang gampang lapuk jika terkena panas dan dingin. Dengan baja ringan, pemilik bangunan tidak perlu memikirkan biaya perawatan pada tahun-tahun berikutnya.
Selain itu, bobot rangka baja sangat ringan dibanding kayu. Itu berarti beban yang harus ditanggung oleh struktur di bawahnya lebih rendah, sehingga strukturnya lebih irit.

Baja ringan juga bersifat non-combustible atau tidak membesarkan api. Artinya, jika terjadi kebakaran, baja ringan tidak membesarkan api. Berbeda dengan kayu yang membuat api menjadi besar.

Keunggulan baja ringan yang paling bisa terlihat adalah tidak dimakan rayap, berbeda dengan kayu yang setiap saat terancam rayap.

Pemasangan rangka baja ringan pun lebih cepat dan praktis, karena dilengkapi pengunci khusus. Disamping itu, ukurannya yang fantastis, lebar 40,6 mm dan panjang sesuai pesanan, mempercepat proses pengerjaan. Juga memperkecil kemungkinan bocor atau rembes.
sumber:konstruksi-steel.blogspot.com

Kamis, 15 November 2012

Jenis Jenis Dan Macam Pipa Pada Kontruksi Bangunan


Jenis Jenis dan Macam Macam Pipa,Jenis Jenis Dan Macam Pipa Pada Kontruksi Bangunan. sekedar mengingat pelajaran di kelas 10 yang materi ini saya ambil dari internet. silahkan bagi teman teman yang mau belajar :

Dari sekian jenis pembuatan pipa secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu :
1. Jenis pipa tanpa sambungan (pembuatan pipa tanpa sambungan pengelasan)
2. Jenis pipa dengan sambungan (pembuatan pipa dengan pengelasan)

Beberapa bahan pipa secara umum :

1. Carbon steel
2. Carbon Moly
3. Galvanees
4. Ferro Nikel
5. Stainless Steel
6. PVC (Paralon)
7. Chrom Moly

Bahan pipa secara khusus :

1. Vibre Glass
2. Aluminium (Aluminium)
3. Wrought Iron (besi tanpa tempa)
4. Cooper (Tembaga)
5. Red Brass (kuningan merah)
6. Nickel cooper = Monel ( timah tembaga)
7. Nickel chrom iron = inconel (besi timah chrom)

Sumber:kontruksibangunan-kb1

Kamis, 25 Oktober 2012

BETON PRATEKAN DIBANDINGKAN DENGAN BETON BERTULANG

Beton pratekan dan beton bertulang tidak dapat dianggap saling bersaingan karena keduanya saling melengkapi dalam fungsi dan penerapannya. Sejak beton pratekan dibuat di pabrik dan dapat dipakai untuk bentang yang lebih panjang, maka beton pratekan lebih bersaing terhadap baja daripada terhadap beton bertulang. Yang perlu diingat, bahwa beton lebih mempunyai keuntungan seperti tahan terhadap kebakaran, sifat isolator yang tinggi, pemeliharaan rendah dsb. Ada beberapa keuntungan beton pratekan dibandingkan dengan beton bertulang:
1. Beton pratekan dipakai bahan baja dan beton dengan mutu tinggi, maka jumlah bahan yang dipakai lebih sedikit. Peningkatan mutu beton 2x lipat, sehingga akan menghemat biaya 30%.
2. Pada beton pratekan, seluruh penampang aktif menerima beban, sedangkan pada beton bertulang hanya penampang yang tidak retak.
3. Karena kedua hal di atas maka beton pratekan lebih ringan, lebih langsing dan secara estetika lebih menarik. Berat yang lebih ringan ini penting pada balok bentang besar dan jembatan dimana beban mati sangat besar pengaruhnya.
4. Karena tidak terjadi retak pada beton pratekan, maka baja lebih terlindung terhadap korosi, dan sangat cocok untuk struktur yang berisi zat cair dan reactor atom.
5. Lendutan efektif akibat beban jangka panjang dapat terkontrol baik pada prategang penuh maupun sebagian.
6. Akibat kemiringan tendon di dekat perletakan, ketahanan terhadap beban lebih baik dan prategangan akan mengurangi tarikan diagonal. Jadi sengkang/begel yang dipakai akan berkurang.
7. Bila pada percobaan awal pada masa initial, struktur dapat bertahan terhadap beban yang paling bahaya, maka struktur juga akan cukup aman pada beban kerja. Secara apriori tidak dapat dikatakan secara umum, mana yang lebih ekonomis, karena banyak factor yang berpengaruh. (SBP: WH)